BAB TIGA
PENYELAMATAN ALLAH
-----------------------------------------------------


I.    ARTI DAN HAKIKAT PENYELAMATAN ALLAH

1.  Arti Penyelamatan Allah

Penyelamatan Allah adalah tindakan Allah melepaskan manusia dari kondisi tidak selamat [Luk.1:47; 1Tim.4:10; Yud.25].


2.  Hakikat Penyelamatan Allah

Hakikat penyelamatan Allah adalah tindakan Allah mengembalikan manusia ke dalam hubungan yang benar dengan diri-Nya, sehingga manusia dapat membangun relasi dengan sesama dan alam  [Luk.23:43; Yoh.1:11; Rm.5:10,11].


3.  Isi Penyelamatan Allah

Penyelamatan Allah pada dasarnya berisi:
1).   Keyakinan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi serta manusia dalam keadaan yang baik.
2).   Keyakinan bahwa oleh karena dosa manusia berada di dalam kondisi tidak selamat.
3).   Keyakinan bahwa dengan kekuatan dan usahanya sendiri manusia tidak dapat selamat.
4).   Keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya yang berkuasa dan berkenan menyelamatkan manusia dari kondisi tidak selamat.
       [Kej 1:31; Rm.3:21-26; 5:12-21; band. Mzm.51:7].


4.  Azas Penyelamatan Allah

Adapun azas penyelamatan Allah adalah:
1). Kasih Allah kepada manusia sebagaimana dinyatakan melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib hingga kebangkitan-Nya untuk menebus dosa manusia.
2).  Pengampunan dosa oleh karena percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat.
3).  Pembenaran manusia di hadapan Allah sehingga manusia dikembalikan ke dalam hubungan yang benar dengan Allah.
[Yes.53:3-5; Luk.1:77 (baca ayat 67-80); Rm.3:24; 4:6-8; 5:9-11; 2Kor.5:21; Ef.1:7; Kol.1:14; Ibr.9:22; 1Ptr.2:24]
5.  Pemahaman Penyelamatan Allah

Penyelamatan Allah atas manusia dipahami sebagai anugerah karena:
1).  Dilakukan atas dasar kasih Allah.
2).         Melalui kehendak dan prakarsa Allah.
3).  Dikerjakan oleh Allah.
[Yoh.3:16; Ef.2:1-9; Tit.3:3-7; 1Yoh.4:9,10]

Penyelamatan Allah yang adalah anugerah itu dapat dinalar sebagai berikut:
1). Allah menyelamatkan manusia karena Ia mengasihi manusia.
2). Allah mengasihi manusia karena bagi-Nya manusia berharga untuk dikasihi.
3). Bagi Allah manusia berharga untuk dikasihi karena manusia mempunyai martabat di atas semua makhluk yang lain.
4). Martabat manusia itu adalah bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk yang diciptakan segambar dengan Allah.
[Kej.1:26,27; Yoh.3:16; 1Yoh.4:9,10; band. Ef.4:24; Kol.3:10]

Manusia berada dalam kondisi tidak selamat, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa [Kej.3:1-24; Rm.6:23]. Hal itu dijelaskan di dalam Alkitab melalui cerita:
1).  Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi serta manusia dalam kondisi yang baik.
2).  Kondisi yang baik itu digambarkan dalam bentuk hubungan yang harmonis antara manusia dengan Allah, manusia dengan sesamanya, serta manusia dengan alam.
3).  Oleh karena dosa manusia maka hubungan yang baik itu menjadi rusak, bahkan karenanya kemudian manusia menerima hukuman Allah.
[Kej 1:31; 3:1-20].
                       
Dengan demikian, kondisi tidak selamat adalah kondisi manusia di luar hubungan yang benar dengan Allah. Kondisi tersebut digambarkan melalui cerita bahwa setelah jatuh ke dalam dosa dan menerima hukuman Allah, manusia dikeluarkan dari taman Eden sehingga harus menjalani hidupnya di luar taman Eden [Kej. 3:21-24; Rm.5:12-14; 1:18-32].
                       
Berdasarkan berita Alkitab tentang kejatuhan  manusia ke dalam dosa di taman Eden, kita dapat mengerti bahwa:
1).   Dosa adalah sikap memberontak manusia sebagai makhluk terhadap Allah sebagai khalik.
2).   Sikap memberontak itu dimungkinkan terjadi karena  kebebasan yang diberikan oleh Allah kepada manusia.
[Kej.2: 16,17;  Rm.1:28 (baca ayat 18-32); 1Yoh 3:4]

Konsekuensi berada dalam kondisi tidak selamat ialah bahwa sejak saat itu semua orang dikandung dan dilahirkan di dalam kondisi di luar hubungan yang benar dengan Allah, di dalam kondisi tidak selamat, di dalam kondisi dosa [1Raj.8:46; 2Taw.6:36; Mzm.51:7; Pkh.7:20; 1Yoh.1:8]. Akibatnya di dalam kehidupan manusia selalu terdapat berbagai macam bentuk kejahatan. Hal itulah yang menyebabkan manusia dengan kekuatan dan usahanya sendiri tidak mampu menyelamatkan diri [Rm.7:24 (baca 7:14-26)]. Sekalipun demikian, manusia masih masih memiliki harapan, sebab Allah di dalam kedaulatan-Nya berkehendak, berprakarsa dan bertindak menyelamatkan manusia [Rm.7:25; band. Yes.1:18; 43:25; 44:22].
                       

II. PERISTIWA PENYELAMATAN ALLAH

1.  Tindakan Penyelamatan Allah

Penyelamatan Allah dilaksanakan dengan cara Allah melibatkan diri di dalam kehidupan manusia. Dengan demikian penyelamatan Allah itu dilaksanakan dan sekaligus teranyam di dalam kehidupan dan sejarah kehidupan manusia. Hal itu kita mengerti dari Alkitab dan dari sejarah penyelamatan Allah yang berlanjut di dalam sejarah gereja sampai hari ini dan seterusnya.

Sejarah penyelamatan Allah itu berpusat pada tiga peristiwa yang utuh, berkesinambungan dan saling terkait, yaitu: peristiwa bangsa Israel, peristiwa manusiawi Yesus dan peristiwa Roh Kudus. Jika sejarah penyelamatan Allah itu kita lukiskan sebagai suatu garis lurus yang belum selesai ditarik, maka ketiga peristiwa tersebut sekaligus menandai periode-periode dalam sejarah penyelamatan Allah, yaitu periode Perjanjian Lama (PL) yang ditandai dengan peristiwa bangsa Israel hingga peristiwa manusiawi Yesus, dan periode Perjanjian Baru (PB), yaitu kelanjutan dari peristiwa manusiawi Yesus hingga peristiwa Roh Kudus.

salib
    Periode PL                                                                          Periode PB


        Peristiwa Bangsa Israel  –  Peristiwa Manusiawi Yesus  –  Peristiwa Roh Kudus

2.  Peristiwa Bangsa Israel

Peristiwa bangsa Israel adalah peristiwa di mana Allah berkenan menganyamkan pelaksanaan penyelamatan-Nya atas manusia di dalam dan melalui kehidupan bangsa Israel sejak pemilihan Bapa leluhur sampai kehidupan bangsa Israel di tanah perjanjian [Tersimak mis.dalam pidato perpisahan Yosua, Yos.24:1-18; Kel.6:6,7; 20:1-17; Ul.4:20].


3.  Peristiwa Manusiawi Yesus

Peristiwa manusiawi Yesus adalah peristiwa datangnya Allah sendiri, yang dalam  pelaksanaan penyelamatan-Nya melibatkan diri di dalam kehidupan manusia dalam wujud manusia Yesus Kristus, sejak kelahiran-Nya sampai kenaikan-Nya ke sorga [Doksologi[1]), peristiwa itu diikhtisarkan di Flp.2:5-11, dan dikisahkan di dalam Injil-Injil].


4.  Peristiwa Roh Kudus

Peristiwa Roh Kudus adalah peristiwa yang terjadi setelah berakhirnya peristiwa manusiawi Yesus, yaitu setelah kenaikan-Nya ke sorga, yang ditandai dengan turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta dan bekerjanya Roh Kudus itu di dalam hati manusia, hingga waktu kesempurnaan keselamatan [Yl.2:28-32; Yoh.14:26; Kis.2:1-13; 15:26,27; 1Kor.6:11; 2Kor.5:5 (baca ayat 4:16-5:10); Ef.1:13,14].


5.  Hubungan Peristiwa Bangsa Israel, Peristiwa Manusiawi Yesus, dan Peristiwa Roh Kudus

Hubungan antara peristiwa bangsa Israel, perisitiwa manusiawi Yesus dan peristiwa Roh Kudus adalah bahwa ketiganya merupakan satu kesatuan dalam keseluruhan rencana penyelamatan Allah, yaitu:
1).   Melalui peristiwa bangsa Israel, Allah menganyamkan karya penyelamatan-Nya yang disertai dengan pernyataan janji penyelamatan-Nya.
2).   Melalui peristiwa manusiawi Yesus, Allah memenuhi janji yang dinyatakan-Nya selama periode Perjanjian Lama, yaitu di dalam dan melalui peristiwa bangsa Israel.
3).   Melalui peristiwa Roh Kudus Allah melanjutkan karya penyelamatan-Nya ke atas manusia dengan meluaskan pengampunan dosa yang berasal dari peristiwa manusiawi Yesus itu kepada segala bangsa.
[Diikhtisarkan dalam silsilah Yesus, Mat.1:1-17; Luk.3:23-38; Kis.1:8 (baca ayat 4-11); 2:1-13; 10:44-48 (baca ayat 34-43); Gal.4:4,5 (baca ayat 1-7); Ef.2:18,19; 3:5,6]

III. KETRITUNGGALAN ALLAH

1.  Hubungan Penyelamatan Allah dan Ketritunggalan Allah

Hubungan antara penyelamatan Allah dengan iman gereja tentang ketritunggalan Allah nampak dalam kenyataan bahwa Allah yang telah berkarya dalam peristiwa bangsa Israel, peristiwa manusiawi Yesus dan peristiwa Roh Kudus itu disebut sebagai: Bapa, Anak dan Roh Kudus.
                 
Gereja awal membuat rumusan ketritunggalan Allah dengan maksud:
1).   Memberi penalaran dengan bahasa dunia yang berlaku pada zaman itu, mengenai penyelamatan Allah ke atas manusia.
2).   Memberi pegangan iman bagi orang-orang percaya pada zaman itu untuk menjalani kehidupannya.
3).   Bersaksi kepada dunia tentang penyelamatan Allah ke atas manusia yang telah dialaminya.

Pemahaman gereja awal tentang Allah tritunggal itu telah menjadi tradisi gereja dan tercantum di dalam Alkitab.[2]) Itu berarti bahwa ajaran tentang Allah tritunggal difungsikan oleh Allah dalam pekerjaan penyelamatan-Nya, baik sebagai alat kesaksian maupun sebagai alat pemeliharaan iman. Oleh karena itu, kita perlu mempertahankan latar belakang pengertiannya, yaitu cara Allah melaksanakan penyelamatan-Nya di dalam sejarah manusia.


[1]) Rumusan doa liturgis yang mengungkapkan kemuliaan Allah atau Kristus, seperti: “Kemuliaan Bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadanya” (lih. Luk 2:14; Rm 16:27, 6:16; 1Ptr 4:11; dsb.)
[2])  Rumusan trinitas atau ketritunggalan Allah hanya ada di dalam Mat.28:19; band. rumusan sakraman baptis, dll., Kis.2:38, serta hubungan Bapa dan Anak dalam Pentakosta di Kis.2:33.

2.  Pemahaman Ketritunggalan Allah

Rumusan Bapa, Anak dan Roh Kudus itu dapat dijelaskan demikian:
1).   Dalam hubungan dengan peristiwa bangsa Israel sebagaimana tertulis dalam kitab Perjanjian Lama, Allah dikenal sebagai Bapa.
2).   Dalam hubungan dengan peristiwa manusiawi Yesus sebagaimana tertulis dalam kitab Perjanjian Baru, Allah dikenal juga sebagai Anak.
3).   Dalam hubungan dengan peristiwa Roh Kudus, sebagaimana tertulis dalam kitab Perjanjian Baru dan di dalam sejarah gereja hingga kini, Allah dikenal juga sebagai Roh Kudus.

Sebutan Bapa dan Anak tidak menyatakan hubungan biologis, melainkan menyatakan hubungan langkah-langkah Allah di dalam karya penyelamatan-Nya [Mat.3:17 ( baca ayat 13-17); Yoh.1:1-3].
                        
Bapa, Anak dan Roh Kudus itu Allah yang satu dan sama. Jadi, pribadinya hanya satu, yaitu Allah [Yoh.10:30; 14:9; 1Yoh.5:7].

Penjelasan tentang Yesus yang berdoa kepada Bapa dan tentang Bapa memberikan Roh Kudus kepada murid-murid Yesus adalah sebagai berikut:
1).   Tentang Yesus yang berdoa kepada Bapa dapat kita pahami atas dasar penalaran bahwa Yesus adalah Allah yang masuk melibatkan diri di dalam kehidupan manusia dengan cara yang begitu manusiawi dan menjalani kehidupan-Nya dengan cara yang manusiawi pula. Dalam hal Yesus yang berdoa kepada Bapa, Ia menempatkan diri dalam posisi menggantikan manusia.
2).   Tentang Bapa yang memberikan Roh Kudus kepada murid-murid Yesus dan orang-orang percaya, hal itu dapat dimengerti dari penalaran bahwa Allah sendiri yang datang dan bekerja sebagai Kuasa di dalam hati mereka, untuk menolong mereka sehingga mampu mempertahankan keselamatannya.
[Yoh.20:22; Flp.2:7,8; Ibr.2:14-18; 4:14,15]

Sebutan Bapa di dalam ketritunggalan Allah itu sama dengan sebutan Bapa dalam doa atau pujian kita. Kedua sebutan itu memang menunjuk kepada Allah yang satu dan sama. Tetapi ada perbedaan pengertian di antara keduanya. Perbedaan itu adalah:
1).   Bapa di dalam ketritunggalan Allah adalah sebutan dalam hubungan dengan pelaksanaan penyelamatan Allah di dalam sejarah manusia.
2).   Bapa di dalam doa atau pujian adalah sapaan dalam hubungan dengan keselamatan yang telah diterima oleh orang percaya. Di dalam Alkitab, salah satu cara menjelaskan penyelamatan Allah ke atas manusia itu dengan lukisan dari dunia keluarga. Manusia berdosa itu dilukiskan sebagai anak durhaka yang memberontak kepada bapaknya. Penyelamatan Allah dilukiskan sebagai tindakan bapak yang menerima dan mengampuni anak durhaka. Dari lukisan itu dapat dimengerti sebutan “anak-anak Allah” bagi orang percaya yang menyebut Allah sebagai “Bapa”.
[Mat.28:19; band.Yes.9:5; Yes.63:16; Yer.3:4; Mal.2:10; Mat.5:16; 5:45,48; 6:6,9; Luk.15:11-32; Yoh.1:12; Rm.8:14-17; Gal.4:4-7]

Roh Kudus adalah Allah sendiri, maka Ia bekerja di segala masa, yaitu sejak penciptaan hingga peristiwa bangsa Israel, maupun peristiwa manusiawi Yesus. Tetapi di dalam peristiwa Roh Kudus dengan wataknya yang khas, Roh Kudus bekerja secara khas pula, yaitu menolong manusia untuk mengerti dan percaya kepada Yesus [Kej.1:1; Yes.63:10; Mrk.12:36; Luk.1:15; Kis.11:15,16; 9:31].
                       

IV. SIAPA YANG DISELAMATKAN DAN BAGAIMANA SIKAP YANG DAPAT MEMBUAT ORANG DISELAMATKAN

1.  Siapa yang Diselamatkan

Allah menghendaki semua orang diselamatkan. Tetapi untuk diselamatkan orang harus menentukan sikapnya terhadap penyelamatan Allah. Jadi, tidak dengan sendirinya semua orang diselamatkan [Yes.49:6; 42:6; band. Yes.60:1-3; Mat.8:28-34; Luk.2:30-32; Kis.10:36,44-48; 13:47; 26:23; 1Tim.2:4-7].
2.  Sikap yang dapat membuat Orang Diselamatkan

Sikap yang dapat membuat orang diselamatkan adalah menerima penyelamatan Allah dan merelakan dirinya diselamatkan oleh Allah. Sikap demikian inilah yang disebut percaya atau beriman [Luk.8:12; Yoh. 3:16-17; 20:31; Ef.2:8].

Sikap percaya mengandung empat unsur, yaitu:
1).   Kesadaran dan pengakuan bahwa dirinya berada di dalam kondisi tidak selamat, yaitu:
a.    Menyadari dan mengakui di hadapan Allah bahwa dirinya adalah pendosa, sehingga pasti dihukum oleh Allah.
b.    Menyadari dan mengakui bahwa dirinya tidak mampu melepaskan diri dari hukuman Allah dengan kekuatannya sendiri.
c.    Menyadari dan mengakui bahwa dirinya membutuhkan pertolongan agar terlepas dari hukuman Allah.
[Mzm.51:3-13; Luk.23:40-42; 7:40-43 (baca ayat 36-50); Rm.7:23-25; Ef.2:3-9]
2).   Pengetahuan mengenai tindakan penyelamatan Allah terhadap dirinya, yaitu mengetahui dan mengakui bahwa berdasarkan kasih-Nya kepada manusia Allah memberikan jalan kelepasan yang dibutuhkan, yaitu di dalam kematian dan kebangkitan Yesus [Kis.4:10-12; IKor.15:1-4; band. Rm.5:6-10].
3).   Penyerahan diri, yaitu menyerahkan diri dan bergantung sepenuhnya kepada pertolongan Allah dalam kematian dan kebangkitan Yesus demi kelepasan dirinya dari hukuman Allah [Mat.8:5-13; Luk.23:40-42].
4).   Bersyukur, yaitu menjalani hidup dengan penuh syukur atas anugerah penyelamatan Allah dan berusaha dengan sungguh-sungguh hidup sesuai Firman-Nya [Rm.12:1,2; Ibr.13:15,16; 1Ptr.2:1-5].


3.  Sikap Percaya dan Kebebasan Manusia

Sikap percaya adalah keputusan manusia sendiri di dalam kebebasannya. Tetapi manusia dapat bersikap demikian karena pertolongan Allah [Mrk.1:15; 16:15,16; Kis.10:44-48; 11:15]. Ia menolong dan menerangi hati dan akal budi manusia agar dapat mengerti bahwa Yesus adalah Allah yang datang untuk menyelamatkan manusia. Meskipun demikian Allah tetap menempatkan manusia di dalam kebebasannya, sehingga manusia dapat menerima tetapi juga dapat menolak [Yoh.3:34-36; Kis.8:30; 16:14; 1Kor.12:3b;].

Hal itu bermakna di dalam kebebasan manusia terletak tanggung jawab mengenai keselamatan yang ditawarkan kepadanya sebagai anugerah [Mat.22:1-14 dan paralelnya; Mrk.16:12,16; Luk.13:22-30]. Dengan demikian keselamatan seseorang bukan nasib atau takdir.


4.  Sikap Percaya dan Pertobatan

Setiap orang yang menyatakan percaya sekaligus menyatakan pula pertobatannya [Mrk.1:15; Kis.20:20,21]. Sebab pertobatan adalah akibat dan perwujudan dari percaya. Dilihat dari isinya pertobatan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1). Pertobatan dasar, yaitu pertobatan yang terjadi ketika seseorang berbalik hatinya dari tidak percaya menjadi percaya. Pada seseorang pertobatan yang demikian hanya terjadi sekali saja.
2). Pertobatan senantiasa, yaitu pertobatan yang terjadi ketika seseorang yang sudah percaya, karena kelemahan manusiawinya dapat berulang kali terjatuh ke dalam dosa, kemudian menyesali dosanya dan bertobat. Pertobatan senantiasa dilakukan orang percaya terus-menerus sepanjang hidupnya sebagai orang yang sudah diselamatkan.
[Yer.18:8-11; Yeh.18:21-23; Mat.26:75 (baca ayat 69-75) hubungkan dengan Yoh.21:15-17; 2Tim.2:25,26; Ibr.6:4-6].
V.  PERJALANAN KESELAMATAN

1.      Perjalanan Menuju Kesempurnaan Keselamatan

Keselamatan sebagai buah pekerjaan penyelamatan Allah sudah diterima dan dialami oleh orang yang percaya pada waktu hidupnya di dunia. Tetapi keselamatan itu masih akan mencapai kesempurnaannya kelak dalam persekutuan dengan Allah di sorga. Oleh karena itu, kehidupan orang percaya di dunia merupakan perjalanan keselamatan, yaitu perjalanan menuju kesempurnaan keselamatan [2Kor.5:1; Tit.2:11-13; 1Ptr.1:3-5; 1:17; 2:11; 1Yoh.3:1,2].

Dalam rangka perjalanan keselamatan tersebut, ada kemungkinan karena suatu penggodaan, orang percaya melepaskan percayanya, sehingga gagal di jalan dan tidak dapat mencapai kesempurnaan keselamatan [1Kor.10:1-13; 1Ptr.5:4; 5:8-10]. Namun hal itu bukan berarti tidak ada kepastian mengenai keselamatan yang dikerjakan oleh Allah. Kepastian keselamatan bagi orang percaya tetap ada, karena ada pengampunan dosa manusia melalui karya penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus [2Kor.5:21; 1Ptr.1:3-5]. Bahkan ada jaminan yang diberikan oleh Allah, yaitu barangsiapa percaya akan dimeteraikan dengan Roh Kudus [Yoh.16:13; Kis.10:44-48; 15:8; 2Kor.5:5; Ef.1:13,14; Ibr.2:1-4].


2.  Peran Roh Kudus dalam menolong Orang Percaya di sepanjang Perjalanan Keselamatannya

Kemungkinan gagalnya orang percaya mencapai kesempurnaan keselamatan berasal dari kelemahan manusia sendiri, antara lain karena kecenderungan sikapnya yang bertentangan dengan kehendak Roh Kudus [Mat.13:20,21; (baca ayat 18-23); Gal.4:8,9; 1Tim.4:1,2; 2Tim.2:11-13; Ibr.6:4-6; 2Ptr.2:1-19]. Roh Kudus memang senantiasa menolong orang percaya, tetapi pertolongan Roh Kudus tidak dengan sendirinya membuat iman orang percaya terpelihara. Roh Kudus tetap memperlakukan orang percaya sebagai manusia yang memiliki kebebasan untuk mengikuti atau tidak mengikuti pimpinan Roh Kudus. Dengan demikian, Roh Kudus tetap menempatkan orang percaya dalam keadaan harus bergumul, berusaha dan bertanggung jawab terhadap keselamatan yang telah diterimanya [Mat.12:31,32 (dan paralelnya); Ef.4:30].


3.  Sikap Orang Percaya dalam Memelihara Keselamatannya

Pergumulan dan usaha orang percaya untuk memelihara keselamatannya dilukiskan di dalam Alkitab sebagai suatu peperangan rohani di mana orang percaya harus melengkapi diri dengan perlengkapan senjata Allah [1Tim.6:12; band. 2Kor.10:3,4; Ef.6:10-18; Flp.1:27-30; 1Ptr.5:7; Yud.3]. Sekalipun setiap orang harus bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri, tetapi pergumulan dan usaha itu dilakukan di dalam persekutuan orang-orang percaya dan dibantu oleh gereja melalui upaya penggembalaan [Mat.18:15-17; Gal.6:1,2; 1Tes.5:11 (baca 5-11); Ibr.3:12-14; Yak.5:19-20].
                       
Di dalam pergumulan dan usaha untuk memelihara keselamatannya, sikap yang paling tepat bagi orang percaya ialah dengan rendah hati:
1).   Mengakui kelemahan manusiawinya.
2).   Waspada dalam menghadapi masalah atau penggodaan apapun.
3).   Terbuka untuk mendengarkan dan memper­hatikan teguran atau peringatan dari saudara seiman.
4).   Terbuka untuk menerima penggembalaan yang dilakukan oleh gereja.
5).   Mengharapkan dan menaati pertolongan Roh Kudus.
6).   Memelihara hubungan yang benar dan akrab dengan Tuhan. Contoh: membaca Alkitab, berdoa, bersekutu dan lain-lain.
[Luk.11:4b; Yoh.14:26; 20:27-29; 21:15-17; 1Kor.10:12,13; Kol.2:8; 3:16;  1Tes.5:12, 13,19; Ibr.3:8;]
BAB EMPAT
GEREJA DAN TATA KEHIDUPAN GEREJA



I.    GEREJA

1.  Gereja sebagai Perwujudan Sikap Percaya

Sikap percaya dinyatakan melalui kehidupan religius sebagai wujud hubungan manusia dengan Allah [Kis.2:37-41 dan lain-lain].  Tetapi karena secara kodrati manusia menjalani kehidupannya di dalam kebersamaan dengan sesamanya, maka kehidupan religius orang-orang percaya juga diwujudkan dalam kehidupan bersama dengan sesamanya [Mat.16:18 (baca ayat 13-18); 18:17; Kis.1:14; 1Kor.1:2].
                          
Sama dengan semua kehidupan bersama religius yang lain manapun, maka kehidupan bersama religius yang dijalani oleh orang-orang percaya ditata dalam empat tatanan dasar, yaitu:
1).  Tatanan pengakuan, disebut juga tatanan ajaran atau dogma.
2).   Tatanan ibadat.
3).   Tatanan hukum.
4).   Tatanan keumatan, yang di dalam bahasa gereja disebut persekutuan.

Bagi orang percaya, kehidupan bersama religius dengan empat tatanan dasar tersebut berpusat pada Yesus Kristus. Kehidupan bersama religius yang berpusat pada Yesus Kristus itu dinamakan gereja [Mat.16:18; Kis.9:31]. Itulah wadah dan saluran untuk menyatakan sikap percaya, serta untuk menghayati dan  mengungkapkan hubungan orang-orang percaya dengan Allah [Kis.2:42-47; 1Kor.1-9].


2.  Campur tangan Roh Kudus dalam Mewujudkan Gereja

Meski gereja merupakan perwujudan sikap percaya manusia, namun tidak sepenuhnya gereja merupakan buah pekerjaan manusia sendiri. Sebab adanya gereja juga karena campur tangan Roh Kudus  [Kis.9:31; 15:28 (baca ayat 22-29)]. Oleh karena itu, tepatnya Gereja adalah suatu kehidupan bersama religius yang berpusat pada Yesus Kristus, yang sekaligus merupakan buah pekerjaan penyelamatan Allah dan jawab manusia terhadap penyelamatan Allah, yang di dalamnya Roh Kudus bekerja dalam rangka pekerjaan penyelamatan Allah.

Dengan demikian kita dapat memahami bahwa keberadaan gereja adalah merupakan:
1).   Buah pekerjaan penyelamatan Allah. Itu berarti Allah mengasihi, mempedulikan dan memelihara gereja. Ia juga berkenan menerima segala sesuatu yang dipersembahkan orang-orang percaya kepada-Nya melalui kehidupan gereja.
2).   Suatu kehidupan bersama religius yang dijalani oleh manusia untuk menjawab penyelamatan Allah. Itu berarti gereja mempunyai watak-watak manusiawi dengan segala cederanya.
[Yoh.17:6-19, 20-24; 1Kor.1:10-17; Flp.4:2]


II.  TUGAS PANGGILAN GEREJA

Allah menguduskan orang-orang percaya dan gereja menjadi umat milik-Nya. Itulah sebabnya gereja dapat disebut gereja Allah [Kel.19:5,6; Ul.14:2; 1Kor.1:2; Tit.2:14 (baca ayat 11-14); 1Ptr.2:9,10].
                       
Gereja yang adalah gereja Allah tidak sama dengan Kerajaan Allah, namun ada hubungannya.[1]) Sebab Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah yang didasarkan pada penyelamatan-Nya di dalam Yesus Kristus yang menghasilkan keselamatan, yaitu pemulihan hubungan manusia dengan Allah. Sedangkan gereja lahir karena penyelamatan Allah, sehingga berada dalam lingkup Kerajaan Allah. Di dunia ini gereja belum sempurna, tetapi sedang berjalan menuju ke arah kesempurnaan.
                       
Allah melibatkan gereja dan orang-orang percaya untuk berfungsi di dalam karya penyelamatan-Nya [Mat.4:18-22 dan paralelnya; Kis.13:2; 17:18; 2Tim.1:7-9; 2:3]. Itulah tugas panggilan gereja dan orang-orang percaya.


1.  Isi Tugas Panggilan Gereja

Isi tugas panggilan gereja dan orang-orang percaya adalah:
1).   Bersaksi tentang penyelamatan Allah kepada mereka yang belum mendengarnya.
2).   Memelihara keselamatan orang-orang yang telah diselamatkan.
[Mat.28:19; Luk.24:47-49; Yoh.15:26,27; 21:15-17; Kis.1:8; 20:28; Rm.15:16; 1Pet.5:2-4]


[1]) Mat.3:1-2 (dan paralelnya); tersimak dalam perumpamaan-perumpamaan tentang Kerajaan Allah; Mat.13; Luk.11:20; 17:20-21.